Fleksibilitas dalam Komunikasi

DasepSuryanto.com – Fleksibilitas adalah kepekaan untuk menyesuaikan diri dengan situasi lawan bicara dan terhadap respons lawan bicara, termasuk bahasa tubuhnya.

Seperti apa raut wajahnya? Senang atau muram? Jika terlihat muram, kita bisa melakukan konfirmasi dengan bertanya secara hati-hati untuk lebih memahami situasinya.

Dengan sikap penuh empati, kita bisa bertanya, “Mengapa terlihat muram, apakah ada masalah atau keluhan yang ingin disampaikan?”

Apa pun jawaban yang diberikan, kita perlu mendengarkannya dengan penuh perhatian. Contoh lainnya, jika menghadapi lawan bicara yang menunjukkan sikap tubuh arogan dan tegang (terkait materi pembicaraan yang sensitif), sebaiknya kita menunjukkan sikap yang penuh perhatian dan penuh hormat.

Kita dapat meletakkan ponsel, tidak melakukan kegiatan lain, memfokuskan sikap tubuh dan pandangan kepada lawan bicara.

Dengan menggunakan komunikasi fleksibel, komunikasi dapat berlangsung secara efektif dan pesan yang sulit sekalipun dapat disampaikan karena kita menyesuaikan diri dengan kondisi lawan bicara.

Khusus saat menghadapi pucuk pimpinan perusahaan atau orang-orang penting di perusahaan, diperlukan komunikasi fleksibel yang memberikan perhatian penuh dan kepekaan dalam menyesuaikan diri dengan sikap dan bahasa tubuh lawan bicara yang kita hormati.

Komunikasi fleksibel juga berlaku terhadap perbedaan pendapat, penolakan proposal, dan ketidaksetujuan lawan bicara.

Terkadang situasi seperti itu tidak perlu disanggah atau ditentang langsung, tapi dihadapi dengan sikap yang fleksibel. Kita bisa mengendapkannya beberapa saat sambil menunggu situasi yang tepat.

Kemudian, bisa diutarakan lagi maksud yang sama dengan cara yang lebih tepat. Misalnya, pengajuan bujet yang jumlahnya tidak disetujui tidak perlu terburu-buru diargumentasikan.

Kita tetap bisa melanjutkan ke pembicaraan berikutnya, sambil menunggu situasi dan perkataan yang lebih tepat untuk menjelaskannya.

Fungsi dari Fleksibilitas

Komunikasi fleksibel dapat membuat kita mencapai tujuan komunikasi dan negosiasi dengan memperhatikan dan menyesuaikan situasi, waktu, dan konteks yang tepat.

Terkadang situasi seperti itu tidak perlu disanggah atau ditentang langsung, tapi dihadapi dengan sikap yang fleksibel. Kita bisa mengendapkannya beberapa saat sambil menunggu situasi yang tepat.

Kemudian, bisa diutarakan lagi maksud yang sama dengan cara yang lebih tepat. Misalnya, pengajuan bujet yang jumlahnya tidak disetujui tidak perlu terburu-buru diargumentasikan.

Kita tetap bisa melanjutkan ke pembicaraan berikutnya, sambil menunggu situasi dan perkataan yang lebih tepat untuk menjelaskannya.

Komunikasi fleksibel dapat membuat kita mencapai tujuan komunikasi dan negosiasi dengan memperhatikan dan menyesuaikan situasi, waktu, dan konteks yang tepat.

 

 

*Tulisan ini sudah pernah terbit di buku Effective Leadership Communication karya Dr. Dasep Suryanto, A.T., M.M., silahkan baca di sini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *